Ziarah ke Makam Sunan Bayat, Sebuah Wisata Religi di Klaten
Ziarah ke Makam Sunan Bayat, Sebuah Wisata Religi di Klaten - Hi, selamat sore bertemu lagi dengan website wisata alam favorit teramai dikesempatan ini saya akan mengulas hal mengenai wisata alam Terkenal tempat wisata di sukoharjo jawa tengah baca selengkapnya Ziarah ke Makam Sunan Bayat, Sebuah Wisata Religi di Klaten Supaya menerima ulasan ulasan lain nya yang tentu terbaik, silahkan kunjungi web wisataalamku7.blogspot.com
Ziarah ke Makam Sunan Bayat, Sebuah Wisata Religi di Klaten, Tempat Wisata Terindah - Sunan Bayat adalah nama asing dari Ki Ageng Pandanaran, seorang Adipati di alun-alun Pandanaran (sekarang Semarang) yang kemudian menjadi anak didik Sunan Kalijaga dan menjadi penyebar Agama Islam di sekitar Bayat, Klaten. Adipati Pandanaran diangkat oleh RajanDemak Bintoro. Lokasi Makam Sunan Bayat atau Sunan Pandanaran siap di Desa Paseban Kecamatan bayat Kabupaten Klaten Jawa Tengah. Kompleks makam ini terletak di ataas sebentuk perbukitan yang sering disebut Gunung Jabalkat.
Makam Sunan Bayat di Klaten Jawa Tengah
Makam Sunan Bayat atau Tembayat selalu dikunjungi oleh getah perca peziarah di sekitar Jawa Tengah. Nama beliau memang telah terkenal diantara getah perca Wali. Meskipun tidak masuk dalam Walisongo, tetapi berjibun yang menganggap bahwa Sunan Bayat adalah sunan ke sepuluh.(Baca : 7 Tempat Wisata di Klaten yang Menarik )
Cerita tentang Sunan Tembayat atau Ki Ageng Pandanaran sangat erat kaitannya dengan Kisah Asal-Usul Kota Salatiga. Dimana setelah Ki Ageng Pandanaran mematahkan untuk ke Gunung Jabalkat untuk berguru pada Sunan Kalijaga. Ki Ageng Pandanaran dan Sunan Kalijaga angkat kaki bersamaan, sedangkan bini Ki Ageng Pandanaran belakangan suaminya di belakang. Dikisahkan bini Ki Ageng Pandanaran ini belum bisa meninggalkan keduniawian, sehingga sebelum angkat kaki dia bawa aset kekayaaannya yang berupa emas adunan dan dimasukkan dalam batang bambu.Dalam perjalanannya dari Semarang ke Gunung Jabalkat di Bayat, Sunan Kalijaga dan Ki Ageng Pandanaran dicegat oleh 3 perampok. Karena merasa tidak memanggul aset benda berharga, Sunan Kalijaga menjawab dengan tenang, bahwa mereka tidak kepunyaan apa-apa. Namun Sunan Kalijaga berbicara pada begal untuk menunggu, karena sebentar lagi siap wanita yag hendak lewat memanggul berjibun adunan yang dimasukkan dalam tongkat bambu. Perampok itu pun menurut saja segala apa bicara Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga dan Ki Ageng Pandanaran melanjutkan perjalanan. Tak lama berselang sampailah bini Ki Ageng Pandanaran ke tempat getah perca begal berada. Benar saja, begal langsung meminta tongkat Nyi ageng yang berisi emas permata itu. Karena takut, Nyi Ageng Pandanaran kemudian lari belakangan suaminya dan Sunan Kalijaga. Setelah bertemu Sunan Kalijaga, Istri Ki Ageng Pandanaran menceritakan semuanya. Sunan Kalijaga kemudian berujar bahwa kelak alun-alun itu hendak diberi nama dengan nama "Salatiga", yang berawal dari bicara salah tiga. Konon bicara itu diambil karena dalam peristiwa itu siap 3 pihak yang bersalah, yaitu Istri ki Ageng Pandanaran sendiri, Ki Ageng Pandanaran yang tidak dapat memandu istrinya dan getah perca perampok. Versi asing melafazkan bicara "tiga" merujuk pada jumlah begal yang berjumlah 3.
Saat ini Makam Sunan Tembayat berjibun dikunjungi oleh peziarah dari dalam daerah. Diantara mereka siap yang benar-benar embuh berziarah, melainkan siap jua yang memiliki arah asing seperti embuh ngalap berkah atau mencari pesugihan.
Demikan artikel mengenai Ziarah ke Makam Sunan Bayat, Sebuah Wisata Religi di Klaten, semoga artikel ini dapat menambah wawasan kalian semua salam
tulisan ini diposting pada tag tempat wisata di sukoharjo jawa tengah, tempat wisata sukorejo kendal, tempat wisata di kendal dan sekitarnya, , tanggal 05-09-2019


Komentar
Posting Komentar